Anak Tunggal dan Tanggung Jawab

 

Anak tunggal identik dengan kata “satu” dan “sendiri”. Kalau kamu pembacaku kebetulan adalah anak tunggal seperti aku, mulai sekarang aku akan menulis dengan memakai kata ganti “kita”.

Semasa kecil kita tidak begitu mencemaskan kehidupan. Pada masa itu yang kita tahu hanya main, minta jajan sama orang tua, minta jalan-jalan sama orang tua, pokonya hanya tahu senang-senang saja.

Semakin bertambah usia, kebahagiaan kecil itu akan semakin menjauh digantikan dengan persoalan-persoalan hidup yang menuntut kita untuk bisa menjadi semakin dipaksa semakin dewasa dan mandiri.

Ketika orang tua sakit, kita lah satu-satunya tumpuan mereka untuk membahagiakan, merawat, mengeluarkan biaya pengobatan, sampai menemani mereka untuk sembuh.

Ketika orang tua kita butuh bantuan, kitalah satu-satunya harapan mereka untuk mengulurkan tangan secara mandiri.

Kita anak tunggal tidak akan selamanya diperlakukakan seperti anak kecil seperti waktu dulu. Kita tidak akan dimanja-manja terus menerus.

Aku dan kau anak tunggal, kita harus kuat: kuat mental, kuat fisik, dan kuat ekonomi untuk berdikari menjadi diri sendiri sekaligus menjadi saudara bagi diri sendiri. Kita ibarat shampoo three in one. Tiga manfaat dalam satu kemasan. Kita harus multi talented, bisa ini dan itu.


0 comments:

Post a Comment