Tragedi Mie Ayam































Sebenarnya ini kategori late post, kejadian udah dua minggu lalu. Sayang kalau dilewatkan, karena cerita ini ternyata memiliki pelajaran moral. Langsung saja. Begini ceritanya ...

Pada hari rabu, sepulang kerja. Entah mengapa, aku merasa bosan dengan rutinitas. Aku ingin sesuatu yang berbeda biar tidak jenuh, salah satunya mencoba melewati rute jalan baru. Aku mengendarai sepeda motor sendirian, sepeda motor sonic 150R. Ketika asyik menikmati perjalanan, tiba-tiba perut keroncongan. Lapar. Sambil berkendara, aku tengok kanan-kiri mencari warung mie ayam. Ketemulah warung mie ayam di pertigaan besar, pinggir jalan raya. Banyak bus antar propinsi berhenti di sekitar jalan itu untuk menaikkan penumpangnya.

Terpasang MMT berukuran sekitar 2x2 meter bertuliskan daftar menu yang dijual, seperti mie ayam, soto ayam, es campur, es teh, teh panas, es jeruk, dan jeruk panas. Sebelum memasuki warung, aku mengamati penampilan warungnya. Aku agak tercengang mendapati bentuk mie yang dipajang di etalase kelihatan kering dan kusam, tidak wajar seperti mie pada umumnya. Selain itu, meja dan etalase berdebu. Melihat hal itu, aku sebenarnya ingin mengurungkan diri, namun apa daya si penjual telah berdiri, menyambut kedatangan ku. Aku pun terpaksa tidak jadi mundur. Segera kuparkirkan sepeda motorku tepat berada di samping kanan etalase. Sepi pembeli. Hanya ada aku di situ :'(

"Mie ayamnya masih Buk?" Aku bertanya, berharap semoga jawabannya mie ayam sudah habis.
"Masih, Mas." Jawab Ibu Penjual dengan nada lemas seperti lelah, tatapan matanya begitu sendu seolah hidupnya tidak ada semangat.
Mendengar jawaban itu, spontan aku jadi kecewa, berarti aku tetap harus membelinya. "Mie ayam satu, minumnya teh panas Buk." sambung ucapanku.
Ku perkirakan usia Ibu itu sekitar 45 tahun. Belum begitu tua. Sambil menunggu menu yang kupesan disajikan, aku memperhatikan cara kerja si Ibu itu lambat banget. Yang membuat aku kesal, masih harus memanaskan rebusan air, lama banget kan panasnya :'(
Merasa bosan menunggu, lalu kucomot tahu goreng yang ada di depanku. Kugigit seketika, ketika tahu itu sudah kontak dengan lidahku, tiba-tiba mulutku protes, kulepeh tahu itu. Astaga, rasa tahunya agak asam. Tidak apa-apa lah, belum begitu basi banget, lalu kuhabiskan tahu itu. Selang satu menit kemudian, Ibu itu menyajikan minuman.
"Ini teh panasnya, Mas." Ucap Ibu Penjual.
"Terima kasih, Buk." Sahutku, sambil melemparkan senyumku. Kuaduk minuman itu agar gulanya lebih larut, lalu kuteguk. Aku kecewa lagi. Teh nya tidak panas. Rasa teh nya juga tidak nikmat. Serasa minum air mineral suhu ruangan dicampur dengan teh :'(. Ingin sekali rasanya aku segera pergi dari warung itu, tapi tidak mungkin kan....

Dua menit kemudian Ibu Penjual menghampiriku, menyajikan mie ayam yang sudah aku pesan sejak tadi.
"Mie ayamnya, Mas." Ucap Ibu si Penjual.
"Terima kasih, Buk." Sahut ku.
Porsi mie banyak banget, suwiran daging ayamnya juga banyak, namun warna mie dan dagingnya kusam. Karena pengalaman dengan kekecewaan tadi, maka kali ini aku harus lebih berhati-hati. Jangan-jangan ada yang tidak beres dengan mie ayam nya. Kucium aroma mie itu, dan rasanya aku ingin muntah. Mie itu tercium basi. Kucicipi mie dan suwiran daging ayam dengan porsi yang sangat sedikit sekali, dan duaaar...rasanya sangat tidak enak. Aku ingin muntah. Hal ini membuat diriku semakin gusar dan bingung  bagaimana harus mengambil sikap (pergi atau bertahan, melahap mie ayam yang mungkin bisa membuat aku jatuh sakit? Kalau tidak aku makan, nanti kan Ibu penjual tersinggung). Pada awalnya, aku berencana meminta mie ayam untuk dibungkus, lalu mie ayam itu aku buang ketika berada di perjalanan. Tapi aku memikirikan satu hal, yakni tentang sepinya pelanggan di warung mie ini. Bisa jadi hal ini disebabkan karena pelayanan yang sangat mengecewakan seperti yang barusan aku alami ini. Aku ingin memberi pelajaran kepada Ibu itu tapi dengan cara halus, caranya adalah dengan tidak menghabiskan mie ayam itu.
Aku memberanikan diri untuk segera meninggalkan warung. "Bu, sudah Bu." Ucapku.
"Loh, kok cepat banget, Mas?" Ucap Ibu Penjual dengan kaget. "Itu mie nya belum habis. Apa tidak enak, Mas?" Tanya Ibu Penjual.
Karena tidak tega, aku tidak menjawab kalau mie itu tidak enak, aku beralasan kalau Aku sudah kenyang. Kalau dipikir-pikir, alasanku ini juga tidak begitu masuk akal. Mana mungkin kalau kenyang jajan di warung makan?
"Mie ayam satu, tahu goreng satu, sama teh panas satu berapa Buk?" Aku bertanya.
"tujuh ribu lima ratus, Mas." Jawab si Ibu.
Murah banget ya, bisik ku dalam hati, heran. Aku mengeluarkan uang dari dompet, lalu kubayar.
Setelah membayar, aku meninggalkan warung mie ayam itu dengan perasaan kecewa dan penuh harap. Kecewa karena layanannya, padahal perutku lapar banget :'(. Dan berharap semoga Ibu itu bisa intropeksi diri, memperbaiki layanannya, sehingga warungnya bisa ramai pembeli.

Kesimpulan:
Dalam kehidupan ini (pasti) ada adegan yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan, karena ulah orang lain. Dalam hal ini, kita sebagai pembeli, apabila dikecewakan, kita tetap punya hak untuk complain atau mengkritik, tapi lakukan dengan cara yang elegant. Tidak perlu marah-marah. Tidak perlu membuat keributan. Tidak perlu melukai hati orang lain. Berikan kritik dengan cara yang halus, lalu doakan dalam hati semoga ke depannya layanan yang diberikan lebih baik lagi. Setelah itu, lupakan dan maafkan. Maka hati kita akan tenang. 

0 comments:

Post a Comment